oleh

Wow, Pemilik Data Kependudukan Ganda di Palopo Lebih 5.000 Orang

RADARLUWURAYA – Anggota DPRD Kota Palopo, Alfri Jamil menyebutkan jika ada keganjilan yang terjadi terkait jumlah penduduk di Kota Palopo. Pasalnya, banyak warga yang terindikasi memiliki data kependudukan ganda, alias meski memiliki KTP Kota Palopo namun datanya masih terekam di daerah lain.

Hal itu diutarakan Alfri saat menggelar reses terkait Masa Sidang ke-III DPRD Kota Palopo, di Kelurahan Battang, Kecamatan Wara Barat, Kota Palopo, Kamis (8/11/18) sore tadi.

Menurut Alfri, fakta itu diketahuinya saat mendatangi Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI beberapa waktu lalu.  Menurutnya, pemilik data kependudukan ganda ini diberi istilah sebagai penduduk anomali.

Dia pun menjelaskan, penduduk anomali itu yakni jika seorang warga yang terdata di suatu daerah, namun juga memiliki data di daerah lain. “Ada mi KTP-nya yang terdata di Palopo, tetapi ada juga datanya di daerah lain contohnya di Kabupaten Wajo, atau Luwu. Meski sulit untuk dipercayai, namun fakta itu saya diperlihatkan langsung petugas Kemendagri RI,” ujar Alfri.

Tidak main-main, jumlah warga Palopo yang terindikasi sebagai penduduk anomali ini yakni lebih dari 5.000 orang. “Pantas saja setiap hari Palopo mencetak puluhan bahkan ratusan e-KTP, namun data jumlah penduduk kita tidak pernah mencapai 200 ribu jiwa,” ujar Alfri.

Dijelaskan Alfri, kondisi ini mempengaruhi banyak hal di tubuh pemerintahan, termasuk terkait bantuan yang akan ditujukan ke Kota Palopo.

“Banyak pengaruhnya, salah satunya terkait bantuan. Seharusnya Palopo bisa dapat bantuan dari pemerintah pusat untuk pembangunan, namun karena jumlah penduduk masih dikategorikan kecil sehingga bantuan itu di pangkas atau dialihkan ke daerah lain, jadi sangat disayangkan,” kata Alfri.

Dia pun mengimbau kepada warga Palopo, terutama yang datanya masih terekam di daerah lain, agar dapat melaporkan ke daerah asalnya untuk dicabut datanya, sehingga hanya memiliki data tunggal dan tidak terindikasi sebagai penduduk anomali.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *